Airlangga: Golkar Punya Filosofi yang Sama dengan Demokrat

0
Jakarta – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyebut partainya memiliki filosofi yang sama dengan Partai Demokrat. Airlangga lantas mengulas kebersamaan dengan Demokrat di saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di 2004 hingga 2014.

“Partai Golkar mempunyai filosofi yang sama dengan Demokrat. Tadi disampaikan Partai Golkar dan Demokrat sempat bersama di tahun 2004 sampai 2014, dan tentu kebersamaan itu mempunyai sejarah yang sama-sama kita pahami bersama dan pengertian,” kata Airlangga usai pertemuan di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (29/4/2023).

Airlangga mengatakan kedua partai juga sepakat bahwa pemilu bukan menjadi ajang menang-menangan. Tapi perlu kebersamaan untuk membangun negeri.

“Dan ke depan Partai Golkar dan Partai Demokrat sepakat bahwa pemilu itu bukan the winner take it off. Artinya kita ini kan Indonesia Raya, kita bukan seperti Amerika, Demokrasi yang kebarat-baratan itu demokrasi yang the winner take it off. Sedangkan kita demokrasi Pancasila jadi siapapun yang menang mari kita bersama-sama membangun negeri,” kata Airlangga.

Airlangga menginginkan suasana politik di Indonesia seperti kompetisi olahraga. Bagaimana membangun sebuah tim kuat bukan hanya dari tim yang menjadi juara saja, tapi keikutsertaan semua tim.

“Sama seperti tadi pertandingan olahraga voli misalnya. Begitu sudah ada yang juara pembentukan tim nasional bukan dari juara itu sendiri, harus dibentuk semua tim. Nah kebetulan saya juga cabor olahraga wusu jadi saya tahu apa yang namanya sportifitas apa yang penting untuk menjadikan sebuah tim yang kuat. Apalagi kita memasuki sea games. Dan saya tahu bagaimana supaya Indonesia Raya dinyanyikan dalam multievent,” ujarnya.

“Apa yang penting untuk menjadikan sebuah tim yang kuat, apalagi kita akan memasuki sea games dan saya tahu bagaimana supaya Indonesia raya dinyanyikan di dalam, multievent. Yang bisa menyanyikan Indonesia Raya hanya satu, presiden berkunjung ke negara lain atau atlet mendapatkan emas di dalam multievent,” lanjutnya.

“Nah kita ingin politik nuansanya seperti itu. Sehingga kita betul-betul pesta politik yang berbahagia, bukan pesta politik yang membelah bangsa ini menjadi dua, karena yang paling kita khawatirkan kalau bangsa ini terbelah dengan politik identitas, kalau di ekonomi ada istilah namanya scare, ada luka yang dalam. Demikian juga politik, ada scare, luka yang dalam dan tidak dalam waktu dekat dia sembuh,” ucapnya.

Menko Perekonomian ini mengatakan dalam membangun bangsa tidak harus berada di posisi yang sama. Perlu adanya persatuan jangka panjang. Meski adanya perbedaan pilihan politik jelang pemilu, dia berharap perbedaan itu tidak menjadi berkelanjutan.

“Nah ini yang ingin kita tinggalkan, mari kita bersama-sama, posisi tidak harus bareng, tidak harus dalam posisi sama tapi yang paling sulit adalah dalam posisi berbeda, kita bertujuan yang sama untuk kemajuan dan kesejahteraan,” ucapnya.

“Pertaruhan kita adalah 10 tahun ke depan, Indonesia masuk dalam bonus demokrasi yang akan berakhir di tahun 2038. Maka, kesatuan politik pascapemilu itu penting tetapi persatuan politik pascapemilu tidak bisa terjadi kalau tidak dirintis dari sekarang. Perbedaan kita hanya pada tanggal 14 Februari, pada saat masyarakat memilih, mencoblos, sesudah itu kita kembali bersama-sama,” lanjutnya.
(eva/idh/detik)





TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini