Jutaan Siswa China Ikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Tersulit di Dunia

0
ist
Jakarta – Jutaan siswa Cina mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang terkenal sulit pada Rabu (07/06). Ujian ini untuk pertama kalinya kembali diadakan setelah pemerintah mencabut aturan nol COVID-19 yang sebelumnya memaksa pelajar belajar daring selama berbulan-bulan.

Menteri Pendidikan Cina menyebut setidaknya hampir 13 juta siswa mendaftar untuk mengikuti ujian tahun ini, atau yang biasa dikenal dengan sebutan “gaokao”.

“Setiap hari saya bangun pukul empat pagi, kecuali hari Minggu, untuk belajar selama empat tahun belakangan ini,” kata Jesse Rao, pelajar SMA berusia 17 tahun yang berasal dari daerah Shenzen kepada AFP.

“Saya sudah melakukan semampu saya, tetapi tetap saja saya merasa gugup.”

Sementara itu di Beijing, para orang tua yang ikut gugup karena anaknya mengikuti ujian berkumpul di sekitar ruang ujian. Banyak di antara mereka yang mengenakan pakaian berwarna merah yang dipercaya membawa keberuntungan.

Zhang Jing, seorang ibu berusia 40-an tahun, membandingkan dirinya dengan Bai Suzhen, seorang tokoh legenda Cina yang mengurung diri dalam sebuah menara sampai anaknya lulus dari sebuah ujian penting.

“Anak saya terlihat cukup tenang, saya merasa lebih gugup dibanding dia,” kata Jing yang mengenakan pakaian tradisional Cina “qipao” berwarna merah, kepada AFP.

“Saya berjuang”

Tes seleksi ini menguji kemampuan siswa terkait Bahasa Mandarin, Inggris, Matematika hingga ilmu pengetahuan alam atau ilmu humaniora lainnya, yang sangat penting supaya dapat melanjutkan pendidikan di universitas ternama di Cina.

Banyak orang tua yang menghabiskan puluhan juta dalam sebulan untuk kursus intensif atau menyewa mahasiswa pascasarjana untuk membimbing anaknya belajar hingga larut malam.

Para pelajar ini telah menghabiskan sebagian besar waktu sekolahnya dalam pembatasan selama pandemi, yang tiba-tiba berakhir pada akhir Desember 2022.

“Saya berjuang untuk mengikuti kelas daring sejak tahun lalu,” kata Katherina Wang, seorang pelajar dari Shanghai, yang mengalami dua kali karantina dalam dua tahun belakang, kepada AFP.

“Guru kami menyelenggarakan kelas tambahan di malam hari dan akhir pekan, supaya kami dapat mengejar ketertinggalan pelajaran!,” tambahnya.

Tingginya pertaruhan membuat adanya tindakan kecurangan, mulai dari orang tua yang menyewa mahasiswa pascasarjana untuk mengikuti ujian menggantikan anaknya hingga para peserta ujian yang membawa perangkat elektronik untuk dapat berkomunikasi dengan para ahli.

Beberapa provinsi di Cina tahun ini telah menggunakan alat pemindai dengan kemampuan mengenali wajah untuk memastikan bahwa peserta tes tidak menyewa orang lain untuk mengikuti ujian atas nama mereka, kata media milik pemerintah Global Times.

Pemindai itu juga dapat mendeteksi “peralatan elektronik seperti telepon genggam yang disembunyikan, penyuara telinga hingga jam pinta” yang biasa digunakan untuk berbuat curang.

“Saya akan mencoba kembali”

Ujian ini setidaknya memakan waktu hingga empat hari, tergantung masing-masing provinsi. Satu mata pelajaran rata-rata menghabiskan waktu antara 60-150 menit.

Nilai maksimumnya adalah 750, sementara nilai di atas 600 menjadi batas minimum agar siswa dapat tempat di universitas ternama, yang selama ini menjadi tiket kesuksesan individu dan profesional di Cina.

Hanya sedikit yang lulus. Tahun lalu, hanya tiga persen peserta yang mampu meraih nilai di atas 600 di populasi terpadat di Cina, Guangdong.

Sementara bagi para siswa dengan ambisi yang sederhana, nilai masih berperan penting untuk mengamankan kursi di universitas dan mata pelajaran yang dapat diambil.

Bagi peserta yang tidak mendapat nilai yang sesuai, mereka masih selalu dapat mencoba di tahun berikutnya. Pada tahun 2021, 17 persen pelajar mengkuti gaokao ulang.

“Kalau nilainya tidak seperti yang saya harapkan, saya akan mencoba lagi,” kata Benjamin Zhu, seorang pelajar dari Guangzhou kepada AFP.

Jutawan Cina ikuti ujian seleksi universitas ke-27 kali

Dari jutaan peserta seleksi ujian, ada sosok yang terlihat mencolok. Seorang jutawan Cina berambut abu-abu bernama Liang Shi yang mengikuti tes ini untuk ke-27 kalinya.

Liang yang berusia 56 tahun bukanlah orang yang bodoh. Dia merupakan pekerja keras yang tadinya bekerja pada pabrik ubin hingga berhasil membangun bisnis bahan bangunannya sendiri.

Namun, ada satu mimpi yang menghalanginya, yakni mendapat nilai tinggi dalam ujian gaokao yang terkenal sulit, agar bisa kuliah di Universitas Sichuan.

Untuk bisa bersaing dengan 13 juta peserta lainnya, dia menyebut telah menjalani “kehidupan seorang biksu pertapa” dalam waktu beberapa bulan terakhir. Dia bangun setelah fajar dan memahami buku pelajaran selama 12 jam sehari.

“Ini adalah pemikiran yang tidak nyaman, bahwa saya tidak berhasil mengenyam pendidikan perguruan tinggi,” kata Liang kepada AFP.

“Saya benar-benar ingin berkuliah dan menjadi seorang intelektual.”

Liang ikut ujian pertama kalinya pada tahun 1983, saat dia berusia 16 tahun. Namun, pada tahun 1992 dia harus menyerah karena saat itu peserta ujian dibatasi untuk orang lajang berusia di bawah 25 tahun.

Di media sosial orang bertanya soal obsesi Liang yang dianggap sebagai aksi mencari perhatian publik. “Supaya apa?” kata Liang membalas.

“Tidak ada orang waras yang mau menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mengikuti gaokao hanya demi sebuah aksi,” tambahnya. Liang mengaku sampai berhenti minum dan bermain mahyong selama masa persiapan.

mh/ha (AFP)

(ita/detik)





TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini