Kemenkes Umumkan 55 Daerah KLB Campak di RI, Ini Daftarnya

0
(Foto: ilustrasi/thinkstock)

Jakarta – Kasus campak di Indonesia meningkat pesat sepanjang 2022, ada lebih dari tiga ribu kasus yang dilaporkan. Tepatnya 3.341 infeksi, melonjak 32 kali lipat dari tahun sebelumnya yakni 200-an kasus.

Bukan tanpa alasan, kenaikan kasus campak diakibatkan cakupan vaksinasi campak dalam dua tahun terakhir merosot tajam. Pandemi COVID-19 disebut punya pengaruh besar pada kekhawatiran orangtua membawa pergi anaknya ke luar rumah.


Terlebih, saat kasus COVID-19 melonjak akibat infeksi varian Delta. Apa akibatnya?

“Anak-anak yang tidak mendapat imunisasi ini tentu akan menyebabkan risiko makin besar terhadap penyakit yang bisa dicegah melalui imunisasi, termasuk tadi khawatirnya adalah campak, campak yang paling cepat menular,” terang Direktorat Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI Prima Yosephine dalam konferensi pers Jumat (20/1/2023).

“Bahwa Indonesia sepanjang tahun 2022 yang lalu sudah ada 12 provinsi yang mengeluarkan pernyataan KLB, ini memang KLB itu dikeluarkan oleh pemerintah daerah, sebagaimana Permenkes No 1501 tahun 2010 jadi memang pemda yang menstate bahwa sudah terjadi KLB,” sambung dia.

Penetapan KLB diberlakukan jika sudah ada minimal dua kasus di suatu daerah, terkonfirmasi secara laboratorium, dan ada keterkaitan epidemiologi antarkasus tersebut.

Sepanjang 2022, 3.341 kasus ini menyebar di 223 kabupaten atau kota di 31 provinsi. Dari total tersebut, ada 55 KLB di 34 kabupaten kota, di 12 provinsi.

Daftar lengkapnya adalah sebagai berikut:

Provinsi Aceh
Kabupaten BireunProvinsi Sumatera Barat
Kabupaten Tanah Datar (dua kasus campak)
Kabupaten Agam (tiga kasus campak)
Kota Bukittinggi (11 kasus campak)
Kota Pariaman (KLB ke-1, dua kasus campak)
Kota Pariaman (KLB ke-2, tiga kasus campak)
Kabupaten Pasaman Barat (tujuh kasus)
Kabupaten Solok (dua kasus)
Kota Padang (empat kasus)
Kabupaten Agam (KLB ke-2, tiga kasus campak)
Kabupaten Agam (KLB ke-tiga, tiga campak)
Kabupaten Agam (KLB ke-4, 7 kasus campak)
Kota Padang (KLB ke-2, dua kasus campak)
Kota Padang (KLB ke-3, dua kasus campak)
Kota Padang (KLB ke-4, dua kasus campak)
Kota Padang (KLB ke-5, dua kasus campak)
Kota Padang (KLB ke-6, dua kasus campak)
Kota Padang (KLB ke-7, dua kasus campak)
Padang Pariaman (dua kasus)
Solok (KLB ke-2, dua kasus)
Kota Sawah lunto (tiga kasus)
Kota Padang (KLB ke-8, dua kasus )
Kota Padang Panjang (KLB ke-1, dua kasus)
Kota Padang Panjang (KLB ke-2, dua kasus)

Provinsi Sumatera Utara
Kabupaten Tapanuli Tengah (tiga kasus)
Kota Sibolga (enam kasus)
Kota Medan (KLB ke-1, tiga kasus)
Kota Medan (KLB ke-2, lima kasus)
Kota Medan (KLB ke-3, dua kasus)
Kota Medan (KLB ke-4, dua kasus)
Kabupaten Batu Barat (dua kasus)
Kabupaten Sedang Bedagai (dua kasus)

Provinsi Jambi
Bungo (lima kasus)
Tanjab Barat (lima kasus)

Provinsi Banten
Lebak (tiga kasus)
Serang (lima kasus)
Kota Serang (tiga kasus)
Pandeglang (KLB ke-1, delapan kasus)
Pandeglang (KLB ke-2, 10 kasus)
Pandeglang (KLB ke-3, dua kasus)
Serang (KLB ke-2)
Serang (KLB ke-3)

Provinsi Jawa Barat
Bogor (enam kasus)
Bandung Barat (dua kasus)
Provinsi Jawa Tengah
Sukoharjo
Boyolali

Provinsi Jawa Timur
Sampang
Pamekasan
Bangkalan
Sumenep

Provinsi Kalimantan Utara
Kabupaten Nunukan

Provinsi NTT
Kabupaten Sumba Timur (dua kasus)

Provinsi Papua
Kabupaten Mimika

(naf/detik)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here