Kepala BPOM Bicara Siasat Cegah Kasus Gagal Ginjal Akut Tak Terulang Lagi

0
Jakarta – Dari sejumlah kasus yang terjadi di Indonesia, salah satu yang menjadi perhatian adalah kasus kontaminasi obat sirup. Cemaran zat toksik etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) disebut memicu gagal ginjal akut hingga menewaskan ratusan anak.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengungkapkan permasalahan kontaminasi di dalam produk obat terkait kasus gagal ginjal sangat menjadi perhatian. Tak hanya di Indonesia, tapi di negara-negara lain di dunia.

Sejauh ini, Penny mengatakan BPOM telah berhasil mengatasi permasalahan tersebut. Bahkan, penanganan yang dilakukan di Indonesia sudah diapresiasi oleh badan multilateral, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Indonesia sudah diapresiasi badan multilateral, WHO, dan negara-negara lain. Itu menjadi tempat pembelajaran bagaimana kita mengatasi permasalahan kemarin dengan transparan, terbuka, dan usaha keras BPOM sebagai leading agency yang akhirnya menemukan bahwa itu perkara kejahatan,” jelas Penny saat ditemui di Jakarta Utara, Selasa (31/10/2023).

“Akhirnya kita temukan siapa yang melakukan pelanggaran, siapa yang lalai, dan itu semua sudah diproses. Ada sanksi administrasi, dan ada yang diproses ke penindakan,” lanjut dia.

Untuk memastikan kejadian itu tidak terjadi lagi, Penny menegaskan perlunya memperkuat regulasi yang ada. Hal ini bisa dijadikan pembelajaran dan mencegahnya agar tidak terulang kembali.

Selain itu, Penny berharap kasus penanganan kasus gagal ginjal yang dilakukan itu bisa menjadi pembelajaran untuk negara-negara lain. Meskipun, hal itu terus terjadi di banyak negara.

“Saya kira ini akan menjadi perhatian dan kewaspadaan untuk kita semua. Itu akan terus terjadi, karena dunia dan pengetahuan akan berkembang terus, dan kejahatan bisa terus mencari kesempatan,” kata Penny.

“Jadi, semua pihak termasuk masyarakat harus hati-hati, ikuti segala edukasi dari BPOM yang dikaitkan dengan membeli, mengkonsumsi obat, dan tempat yang tepat untuk membeli produk, sebagian sudah ada aturan-aturannya. Dan dunia tentunya kita akan terus tegakkan aturan dan persyaratan yang lebih lengkap, lebih ketat yang tentu dikaitkan dengan kontaminan,” pungkasnya.
(sao/kna/detik)





TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini