Luncurkan Program STAB, PLN Akan Manfaatkan Limbah Pertanian dan Perkebunan Jadi Biomassa

37
Ilustrasi penggunaan pelet biomassa sebagai substitusi batu bara di PLTU Indramayu, Jawa Barat.
Jakarta – PT PLN (Persero) melalui subholding PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama Kementerian Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) meluncurkan program Socio Tropical Agriculture-waste Biomass (STAB) dan Primary Energy Renewable & Territorial Integrated Wisdom of Indonesia (PERTIWI). Peluncuran program ini merupakan pemanfaatan limbah pertanian dari perkebunan untuk rantai pasok biomassa dalam acara COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (30/11).
Biomassa dari sampah yang digunakan untuk co-firing atau bahan bakar pendamping batu bara PLTU.

Menteri Menko Marves Ad Intern Erick Thohir saat melakukan sesi MoU Signing Session di Indonesia Pavilion COP28 menuturkan dalam gelaran tersebut pemerintah Indonesia tidak sekadar ingin terlibat aktif dalam menjaga lingkungan yang berkelanjutan tetapi juga ingin menunjukkan aksi nyata dalam mengejar target Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2060.

“Saya senang dan bangga pada kesempatan ini kita meluncurkan dan menandatangani kerjasama antar pihak dalam menangani masalah perubahan iklim yang sangat terstruktur. Pemerintah Indonesia telah mengembangkan strategi penerapan kebijakan dekarbonisasi dan kemudian memastikan transisi energi yang lancar untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan sosial,” ungkap Erick dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/12/2023).

Ia menyampaikan apresiasinya pada semua pihak yang telah berkomitmen penuh untuk bekerja sama dengan memberi kontribusi besar dalam mewujudkan dekarbonisasi di Tanah Air.

“Saya juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkomitmen kuat untuk bekerja sama dan memberikan kontribusi bagi Indonesia yang lebih ramah lingkungan. Saya berharap komitmen ini bisa segera terwujud dan diimplementasikan seefektif mungkin,” terangnya.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan peluncuran program ini nyatanya sejalan dengan roadmap transisi energi. Selain itu, pemanfaatan biomassa juga merupakan wujud nyata komitmen PLN dalam meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Tanah Air.

“Kebijakan Co-Firing Biomass intensif dilakukan di Indonesia sebagai langkah konkrit dalam mereduksi emisi karbon guna mencapai target NZE di tahun 2060 atau lebih cepat Co-Firing Biomass juga memiliki peran yang vital dalam akselerasi transisi energi di tanah air,” ucap Darmawan.

Darmawan juga menyebutkan Co-Firing Biomassa memiliki keunggulan Levelized Cost of Electricity (LCOE) terendah dibanding akselerasi ke EBT lainnya. Bukan hanya itu, masyarakat lokal juga akan memainkan peran penting dalam menyediakan bahan baku biomassa, yang artinya Co-Firing Biomass tidak hanya mendorong akselerasi transisi energi, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat lewat pembukaan lapangan kerja yang masif.

Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menjelaskan STAB adalah jenis biomassa yang berasal dari limbah pertanian di mana proses produksi akan melibatkan masyarakat tani secara langsung. Bahan baku dari STAB dapat berupa limbah atau residu tanaman pertanian atau perkebunan seperti sekam, jerami, padi, bonggol jagung, bagasse, pucuk daun tebu, limbah aren, dan berbagai lainnya.

“Sebagai negara tropis dengan masyarakat agraris, lami melihat banyak sekali limbah pertanian yang selama ini hanya ditimbun atau dibakar agar lahan bersih kembali. Nah, kami melihat potensi besar ini maka kami terus berinovasi bagaimana memanfaatkan limbah yang tadinya tidak bermanfaat dan mengganggu bisa di utilisasi menjadi energi bersih bahkan mampu menciptakan nilai ekonomi baru bagi para petani di Indonesia,” sebut Iwan.

Iwan menjabarkan sejak semester II 2023, PLN EPI telah memanfaatkan STAB dari berbagai jenis limbah, diantaranya bagasse tebu dan pelet tandan kosong kelapa sawit. Untuk itu dirinya optimis lewat kerja sama kemitraan lintas Kementerian dan BUMN akselerasi biomassa STAB bisa digalakkan lebih masif lagi.

Lalu Ia menambahkan, sejalan dengan komitmen Pemerintah dalam mengejar target Co-Firing pada tahun 2025, proyeksi kebutuhan biomassa dari PLN meningkat tajam sebesar 10,2 juta ton atau sebesar 300% guna menyediakan energi bersih sebesar 12,7 Terawatt hour (TWh).

Selain STAB pada MoU ini juga menggagas PERTIWI yang merupakan jenis biomassa yang diproduksi dari ranting-ranting dan limbah produksi pangan seperti sagu. Sebagai langkah awal, program PERTIWI akan dikembangkan di Provinsi Riau.

Di wilayah tersebut, ada sekitar 80 kilang sagu dengan potensi limbah berupa ampas dan kulit sagu lebih dari 200.000 ton per tahun. Selama ini, ampas sagu dibuang ke sungai, laut, atau ditimbun. Sedangkan kulit sagunya dibakar untuk boiler pengering sagu, sementara arangnya dibuang begitu saja.

“Oleh karena itu, melihat besarnya potensi STAB dan PERTIWI, PLN EPI optimistis bisa berkontribusi maksimal dalam upaya penurunan emisi, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan karakteristik dan kekhasan negara dan bangsa Indonesia,” tutup Iwan.

Selain peluncuran STAB dan PERTIWI, pada momen yang sama, PLN EPI juga menggandeng beberapa mitra untuk bekerja sama dalam menjaga rantai pasok Biomassa yang ditandai dengan penandatanganan MoU dengan PT Sinar Energi Utama, PT Elektrika Konstruksi Nusantara, PT Aswattha, PT Mentari Biru Energi dan PT Hartana Tamita.





37 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini