Mahasiswa UB Ciptakan Alat agar Air Hujan Bisa Diminum

0
Foto: Doc. Universitas Brawijaya/Alat Pemanen Air Hujan
Jakarta – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan teknologi alat pemanen air hujan berbasis IoT yang menghasilkan air siap minum. Alat yang dinamakan Raiter ini dibuat untuk menyelesaikan permasalahan krisis air minum bersih.

Mahasiswa UB yang menciptakan Raiter itu adalah Muh. Fijar Sukma dan Muhammad Aditya dari FILKOM, dan Faris Febrian, Miftahul Pebrianti, dan St.Shofiah dari FMIPA. Mereka tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang lolos didanai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Atasi Krisis Air Minum Bersih


Ketua Tim Muh. Fijar Sukma menyampaikan, penciptaan alat ini dilatarbelakangi adanya perubahan iklim di Indonesia yang menyebabkan terjadinya pergeseran musim dan menimbulkan cuaca ekstrim.

Dengan kondisi itu, Indonesia sering dilanda kekeringan di musim kemarau atau banjir bandang di musim penghujan.

“Untuk itu tim kami membuat teknologi pemanen air hujan untuk mengatasi krisis air minum bersih yang biasanya terjadi saat musim kemarau,” jelas Fijar dikutip dari laman resmi UB.

Berbasis Internet dan Tersambung ke Smartphone

Raiter terbilang modern karena dilengkapi teknologi berbasis Internet of Things yang terintegrasi ke dalam ponsel cerdas .

Alat pemanen hujan ini juga disematkan ke dalam bentuk sensor yang berfungsi untuk memonitor kualitas air minum dengan berbagai parameter yang ada di dalamnya.

Untuk menyaring kotoran serta membunuh nano partikel berbahaya di dalam air hujan, terdapat sistem filtrasi, sterilisasi, dan dekontaminasi yang digunakan.

Selain itu, di dalamnya juga dilengkapi dengan beberapa sensor yang berfungsi sebagai indikator air bersih siap minum yang dihasilkan.
Fitur Alat Pemanen Hujan

Alat ciptaan mahasiswa UB ini juga memiliki fitur pengaturan waktu pemrosesan air hujan yang dapat dilakukan melalui smartphone.

Nantinya, akan ada notifikasi apabila terjadi gangguan pada sistem hardware atau software dan menampilkannya pada layar sehingga memudahkan pengguna dalam perbaikan alat.

Fijar menjelaskan fitur sensor yang ada di teknologi Raiter ini antara lain sensor suhu, TDS, kekeruhan, dan pH.

Untuk tahapan filtrasi Raiter terdiri dari 3 tahapan yaitu filtrasi pertama menggunakan busa filtrasi, batu zeolit, dan arang aktif.

Kemudian filtrasi kedua menggunakan membran ultrafiltrasi yang kemudian dilanjutkan ke tahapan filtrasi terakhir menggunakan konsep elektrolisis untuk memisahkan kandungan logam yang ada di sampel.

“Kami berharap kedepannya teknologi ini dapat dikembangkan dan dikomersialkan bukan hanya untuk air minum, namun untuk keperluan yang lebih luas lagi seperti pertanian, perikanan, dan lain sebagainya,” pungkas mahasiswa FILKOM UB tersebut.

(faz/pal/detik)







LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here