Menumbuhkan Kesadaran Akan Pentingnya Produksi Pangan Higienis di Kota Palembang

38

Palembang, rakyatpembaruan.com –

24 Perajin tempe di Kelurahan Plaju Ulu, Kecamatan Plaju, semakin mantap mengadopsi gaya hidup bersih saat memproduksi olahan tempe di rumahnya masing-masing.

Berpuluh-puluh tahun lamanya sejak 1952, perajin tempe rumahan yang diwariskan turun temurun ini memproduksi tempe yang dijual di pasar dengan proses tradisional, tanpa memerhatikan aspek higienitas dalam proses produksinya.

Hal itu diakui langsung oleh salah satu perajin tempe yang rumahnya beralamat di Jalan Asia Kelurahan Plaju Ulu, Joko Pitoyo. Menurutnya, akses pangan sehat di Plaju Ulu memang masih belum memiliki standar kebersihan yang layak. “Masih menggunakan drum bekas oli sebagai alat perebusan,” katanya sendiri. Proses peragian atau fermentasinya pun, kata Joko, masih menggunakan kotak adukan beralas terpal atau plastik.

Tahun lalu, kampung produksi tempe Plaju Ulu ini menghadapi problema yang hampir serupa: sanitasi. Meskipun limbah tempe sudah mulai terkelola dengan baik semenjak adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mandiri dan komunal, namun aroma-aroma kurang sedap masih sesekali menyeruak.

*Mengolah Keberlanjutan*

Namun masalah itu pelan-pelan sirna. Joko mulai menyadari tuntutan pasar yang sadar akan pentingnya pangan sehat. Ia berniat membawa perubahan pelan-pelan agar para pedagang di Pasar Plaju, tempat ia dan perajin lainnya berlapak, selain memastikan penjualan dan keuntungan, juga memerhatikan aspek keamanan pangan yang akan dikonsumsi masyarakat.

Beruntung, setelah hadirnya Kilang Pertamina Plaju (PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang membantu instalasi IPAL komunal bertenaga surya di rumahnya pada 2022 lalu, kesadaran akan pentingnya proses produksi bersih semakin tumbuh.

Soal IPAL bertenaga surya yang merupakan hal baru di Sumsel, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) provinsi, Hendriansyah menyebut hal itu sebagai upaya baik dalam mendorong masyarakat untuk turut berkontribusi dalam program transisi energi ini. “Dengan adanya Solar Cell dengan kapasitas 2,2 kWp, yang berada di lokasi industri rumah tangga yang merupakan produsen tempe di Plaju Ulu ini kami nilai sangat baik. Apalagi energi terbarukan dari sinar matahari ini dimanfaatkan untuk menggerakkan pengelolaan limbah tempe yang awalnya mencemari lingkungan,” tutur Hendri.

Tekad kuat Kilang Pertamina Plaju sebagai perusahaan pengolahan migas dan petrokimia di Kota Palembang itu dalam membina perajin tempe agar semakin melek proses bersih, didasari oleh komitmen pada aspek keberlanjutan yang sejalan dengan aspek Environmental, Social & Governance (ESG).

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Pertamina Plaju, Siti Rachmi Indahsari, mengatakan bahwa perusahaan memiliki Kebijakan TJSL yang langsung ditandatangani General Manager (GM) sebagai pijakan utama dalam melaksanakan pilar-pilar keberlanjutan yang dimaksud.

“Pertamina memegang teguh komitmen untuk menjaga prospek bisnis yang berkelanjutan dengan memprioritaskan keseimbangan dan kelestarian alam, perlindungan terhadap lingkungan hidup serta kontribusinya terhadap terwujudnya kemandirian masyarakat,” ujarnya.

Bak batu yang terus menerus ditetesi air sehingga semakin lunak, upaya perusahaan dalam memberdayakan perajin tempe itu mulai nampak. Para perajin yang tergabung dalam Paguyuban Perajin Tempe Plaju Bersinar telah memiliki kecakapan dalam mengelola lingkungan dengan lebih bertanggung jawab. Alih-alih sebatas mengolah tempe, para perajin mulai sadar akan posisinya sebagai bagian dari planet bumi yang juga harus mengolah keberlanjutan.

“Masalah pembuangan limbah tempe yang bau dan membuat selokan mampet sudah sudah kita atasi bersama,” begitu pengakuan Muhammad Taufik, Ketua Paguyuban.

Setiap sore kira-kira selepas menunaikan ibadah salat ashar, Taufik meneteskan beberapa mililiter (mL) Eco-Enzym ke inlet IPAL tempe komunal di dekat rumahnya. Cairan ‘ajaib’ eco-enzym itu diproduksi oleh Chairul Bahri, warga Kelurahan Talangbubuk, Kecamatan Plaju, berkat kreativitasnya dalam meracik inovasi.

Terobosan pria yang akrab disapa Elonk itu dimulai sejak awal pertengahan 2021, bermula dari melimpahnya buah belimbing wuluh yang ditanam di sekitar rumahnya. Dari sini, timbul inisiatif Elonk untuk memanfaatkan buah belimbing wuluh tersebut yang tak hanya untuk masakan tetapi juga bisa dijadikan nilai tambah.

Dengan memanfaatkan pengetahuan kimia yang dimilikinya, serta literatur ilmiah dan pelatihan eco-enzym yang difasilitasi oleh Kilang Pertamina Plaju, menjadi landasan yang kuat bagi Elonk memutuskan mencoba membuat enzym belimbing wuluh tersebut.

Beberapa tetes Eco-Enzym itu, mampu mengurangi aroma kurang enak yang sesekali masih menyeruak.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Palembang, Ahmad Mustain mengatakan, inovasi eco enzym ini sangat penting dan harus diapresiasi. “Apalagi enzyme ini mampu diproduksi masyarakat kelompok binaan dari Pertamina Plaju ini,” ujarnya.

“Enzym ini mampu untuk menjadi bahan pengurai limbah di industri rumah tangga produsen tempe di Plaju. Hal ini tentunya sangat baik karena dapat bermanfaat bagi kelompok industri tempe agar lebih ramah lingkungan serta mengurangi beban pencemaran di lingkungan masyarakat sekitar industri tempe,” jelasnya.

Ia berharap agar inovasi ini menjadi contoh bagi kelompok masyarakat lainnya terutama industri rumah tangga dapat memperhatikan pengelolaan limbahnya dan aspek lingkungan lainnya.

*Fasilitasi Drum “Food Grade” dan Meja Peragian Higienis*

Joko Pitoyo, kini semakin menikmati perannya sebagai penggerak produksi bersih dan mengajak puluhan perajin tempe lainnya untuk mulai berbenah. Ia menceritakan, sejak bergulirnya program Kampung Pangan Inovatif sebagai program TJSL Kilang Pertamina Plaju pada 2021 lalu, telah banyak perubahan yang dihasilkan bagi lingkungan.

Jika sebelumnya para perajin tempe menggunakan alat perebus tempe dari drum bekas yang dimodifikasi, dan media peragian dari terpal yang dibentang di atas meja kayu yang tidak sesuai standar, kini ia dan perajin lainnya telah difasilitasi drum “food grade” dan meja peragian dari stainless dari Pertamina.

“Alhamdulillah, program dari Pertamina memberikan jawaban atas permasalahan yang kami alami. Kami diajari proses produksi bersih dari Pertamina, juga diberi sarana produksi,” ujar Joko.

Berdasarkan data hingga September lalu, proses energi bersih di Kelurahan Plaju Ulu menghasilkan transformasi yang positif.

Perubahan perilaku hingga penghematan biaya produksi tempe pun terwujud. Penggantian meja ragi misalnya, menghasilkan penurunan biaya hingga Rp 22,8 juta per tahun, sedangkan penggantian panci food grade juga menyumbang penghematan sebesar Rp 23,04 juta untuk jangka waktu tiga tahun.

Selanjutnya, dari sisi penggunaan bahan bakar pun mengalami pengurangan pemakaian biaya sebesar Rp 21,6 per tahun. Hal ini dikarenakan penggunaan panci higienis yang sesuai standar sehingga durasi perebusan kedelai yang tak membutuhkan waktu yang lebih lama.

Rachmi mengatakan, berbagai inovasi diciptakan dengan dukungan Pertamina sebagai upaya mendukung keberlanjutan usaha perajin tempe yang tak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan, tetapi juga mengedepankan pelestarian lingkungan. Semangat ini, kata dia, sejalan dengan semangat keberlanjutan yang diadopsi perusahaan saat ini.

“Kami ingin para perajin tempe memiliki kesadaran tentang pentingnya produksi bersih yang bertanggung jawab karena kita semua memiliki andil untuk menciptakan lingkungan yang sehat,” katanya.

Semangat perubahan menuju proses produksi bersih ini, kata Rachmi, menjadi concern perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan kepada komunitas di sekitar turut mendapat manfaat dan kemajuan bersama-sama.

Atas upaya yang dilakukan oleh Kilang Pertamina Plaju, Joko bertekad akan terus berkontribusi pada kegiatan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan tersebut. “Kita akan terus menjaga proses produksi bersih dan sehat agar terjaga kualitasnya,” katanya. Joko.

*Dukung Tercapainya Tujuan SDGs*

Selain sejalan dengan aspek ESG, bahu-membahu masyarakat yang didukung Kilang Pertamina Plaju ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada tujuan kedua belas, yakni menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, terutama pada target mengurangi pencemaran bahan kimia dan limbah tersebut ke udara, air, dan tanah untuk meminimalkan dampak buruk terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Selanjutnya, Pertamina juga telah mendukung capaian tujuan keenam dalam SDGs yang berfokus pada menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan, terutama pada target untuk mendukung dan memperkuat partisipasi masyarakat lokal dalam meningkatkan pengelolaan air dan sanitasi.(adi/rp)





38 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini