Viral Harga Cabai Rawit di Baubau Rp 450 Ribu/Kg, Kemendag Buka Suara

38
Ilustrasi, Pedagang sayur di pasar KM 5 Palembang. (foto rakyat pembaruan)

Jakarta – Viral harga cabai rawit merah tembus Rp 450.000 per kilogram (kg). Informasi ini menghebohkan netizen di Twitter, kini X karena harganya jauh melebihi harga daging sapi.

Berdasarkan informasi dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) hal tersebut terjadi di kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Namun, hal tersebut hanya berlangsung sekali dan saat ini tidak ada lagi harga tersebut.

Menanggapi viralnya informasi tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) buka suara. Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto mengatakan berdasarkan informasi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Baubau tidak ditemui cabai Rp 450.000/kg.

“Sehubungan dengan pemberitaan tersebut kami telah melakukan pengecekan di pasar melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Baubau dan tidak ditemui adanya cabai dengan harga Rp 450.000/kg,” kata Suhanto kepada detikcom, Senin (18/12/2023).

Berdasarkan pantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per tanggl 18 Desember 2023, mencatat harga cabai rawit merah di Kota Baubau sebesar Rp 130.000 per kg.

“Terhadap pemberitaan tersebut, sebetulnya juga telah diklarifikasi juga oleh Kadis bahwa tidak ada harga Rp 450.000 per kg harga cabai rawit merah di sana,” jelasnya.

Harga cabai rawit merah secara rata-rata nasional dalam laman SP2KP Kemendag tercatat turun 4,87% menjadi Rp 93.200 per kg. Angka itu turun dari harga sebelumnya pada 15 Desember 2023, Rp 97.100 per kg.

Kemudian jenis cabai lainnya juga terpantau tinggi namun mengalami penurunan hari ini. Harga cabai merah keriting Rp 68.600 per kg, turun 5,77% menjadi Rp 72.800 per kg, cabai merah besar Rp 68.400, turun 4,87% menjadi Rp 71.900 per kg.

Harga Cabai Tinggi

Suhanto mengakui memang terjadi peningkatan pada harga cabai saat ini. Ia menjelaskan kenaikan harga cabai terjadi akibat adanya penurunan produksi akibat dari fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan pada lahan tanam cabai.

“Sehingga mengalami keterlambatan memasuki masa panen bahkan hingga mengakibatkan kematian (gagal panen),” tuturnya.

Dia juga mengatakan, kenaikan harga cabai juga dikontribusikan karena biaya produksi yang meningkat. Salah satunya biaya untuk memenuhi kebutuhan air di tengah kekeringan akibat fenomena El Nino.

“Untuk memenuhi kebutuhan air pada lahannya sehingga menyebabkan kenaikan harga pokok produksi cabai di tingkat petani,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan berdasarkan laporan yang didapat memang ada salah satu pasar di Baubau, Sulawesi Tenggara menjual cabai rawit Rp 450.000 per kg.

“Ini tidak merata harganya. Jadi benar, di Baubau itu sempat ada tembus Rp 450.000 tetapi itu langsung turun. Kasusnya bukan karena harganya segitu,” ujar Mansuri kepada detikcom.

Mansuri menjelaskan kasus harga cabai rawit yang tinggi itu karena saat pedagang ingin menutupi kerugiannya. Karena saat membeli pasokan pertama, barang yang datang malah rusak.

“Jadi pedagang itu kan beli kan langsung bayar, baru datang barangnya. Kemudian ketika datang itu barangnya rusak, jadi nggak bisa dijual. Ketika membeli yang kedua, pedagang jadi menjual dengan harga yang diakumulasikan dengan pembelian pertama, jadi harganya naik,” ujarnya.

(ada/ara/detik)





38 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini